TINGKAT KEMATANGAN GONAD
Oleh
La Ode Uma
Aquakulture Student, Department of fishery teqnology-UNG
Sering sekali catatan kematangan gonad ikan diperlukan untuk beberapa tujuan, misalnya untuk menentukan atau untuk mengetahui perbandingan antara ikan yang masak gonadnya dengan yang belum masak gonadnya yang belum dari stok yang ada diperairan, ukuran ata umur ikan pertama-tama menjadi masak gonadnya, apakah ikan sudah memijah atau belum, kapan masa pemijahannnya, berapa lama saat pemijahannya, berapa kali pemijahannya dalam satu tahun dan sebagainya.
Menentukan tingkat kemat ngan gonad pada ikan ada dua macam, yaitu:
1. Penentuan dilakukan di laboratorium berdasarkan kepada penelitian mikroskopik.
2. Penentuan dilakukan di lapangan atau di laboratorium berdasarkan tanda-tanda umum serta ukuran gonadnya.
Yang dimaksud dengan tingkat kematangan gonad adalah tahap tertentu perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan itu berpijah.
Ikan-ikan di Indonesia banyak yang belum diteliti tahap kematangan gonadnya. Hal ini banyak memberikan peluang untuk membuat klasifikasi tingkat kematangan gonad yang baru dan bervariasi. Garis besar penentuan tahap kematangan gonad satu jenis ikan adalah sebagai berikut:
- Apabila ikan itu mempunyai seksual dimorpisme yang membedakan antara ikan jantan dan betina, maka dipisahkan antara ikan jantan dan betina, untuk kemudian diteliti lebih lanjut masing-masing tingkat kematangannya.
- Apabila ikan tidak mempunyai seksual dimorpisme dan tidak mempunyai sifat seksual sekunder yang jelas, maka untuk melihat jenis kelaminnya dengan jalan melihat gonad melalui pembedahan.
- Baik untuk kita jantan atau ikan betina, ambillah gonadnya dan pindahkan menurut kelaminnya. Gonad ikan jantan kelompokan tersendiri demikian pula gonad ikan betina. Namun data lainnya dari masing-masing gonad tersebut jangan sampai hilang atau tercampur sehingga menyusahkan analisa selanjutnya.
- Gonad dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok mulai dari yang terendah sampai tertinggi. Pembagian kelompok ini sebaiknya hanya beberapa saja dimana untuk membedakan satu kelompok dengan kelompok lainyang terdekatnya harus jelas perbedaannya.
Penentuan tingkat kematangan gonad secara mikroskopis jarang sekali digunakan kecuali untuk penelitian yang memerlukan keterangan yang sangat khusus. Penentuan dengan cara ini banyak menggunakan peralatan histologis seperti mikrotom dan sebagainya serta menggunakan bahan kimia yang kadang-kadang sukar didapatkan secara umum.jadi penentuan tingkat kematangan secara mikroskopis jauh lebih mahal dari pada penentuan kematangan dengan cara yang kedua.
Beberapa tanda yang dapat dipakai untuk pembeda kelompok dalam penentuan tingkat kematangan gonad dilaboratorium atau lapangan di antaranya ialah:
Untuk ikan betina:
1. Bentuk ovarium
2. Besar kecilnya ovarium
3. Pengisian ovarium dalam rongga tubuh
4. Warna ovarium
5. Halus tidaknya ovarium
6. Secara umum ukuran telur dalam ovarium
7. Kejelasan bentuk dan warna telur dengan bagian-bagiannya
8. Ukuran (garis tengah) telur
9. Warna telur.
Untuk ikan jantan:
1. Bentuk testes
2. Besar kecilnya testes
3. Pengisian testes dalam rongga tubuh
4. Warna testes
5. Keluar tidaknya cairan dari testes (dalam keadaan segar).
Berdasarkan tanda-tanda yang diperlukan seperti tersebut diatas, maka untuk melihat gonad ikan harus diadakan pembedahan. Diusahakan agar pada waktu mengadakan pembedahan jangan sampai rusak gonad tersebut atau hilang serta data lainnya harus tetap disertakan.
Untuk mendapat gambaran tentang klasifikasi tingkat kematangan gonad, dibawah ini kami sajikan beberapa contoh yang telah dibuat oleh beberapa orang penulis baik yang sifatnya umum atau yang sifaatnya khusus berdasarkan ikan yang diteliti oleh penulis tersebut.
I. Tingkat kemataangan gonad ikan menurut Kesteven (Begenal dan Broam 1968).
1. Dara
Organ seksual sangat kecil berdekatan dibawah tulang punggung. Testes dan ovarium transparan, tidak berwarna sampai abu-abu. Telur tidak terlihat dengan mata biasa.
2. Dara berkembang
Testes dan ovarium jernih, abu-abu merah. Panjangnya setengah atau lebih sedikit dari panjang rongga bawah. Telur satu persatu dapat terlihat dengan kaca pembesar.
3. Perkembangan I
Testes dan ovarium bentuknya bulat telur, kemerah-merahan dengan pembuluh darah kapiler. Mengisi kira-kira setengah ruang ke bagian bawah. Telur dapat melihat oleh mata seperti serbuk putih.
4. perkembangan II
Testes putih kemerah-merahan. Tak ada pati jantan atau sperma kalau baagian perut ditekan. Ovarium berwarna oranye kemerah-merahan. Telur jelas dapat dibedakan, bentuknya balat telur. Ovarium mengisi kira-kira 2/3 ruang bawah.
5. Bunting
Organ seksual mengisi ruang bawah. Testes warnanya putih, telur bentuknya bulat, beberapa dari padanya jernih dan masak.
6. Mijah
Telur dan sperma keluar dengan sedikit tekanan, kebanyakan tulurnya berwarna jernih dengan beberapa yang berbentuk bulattelur tinggal dalam ovarium.
7. Mijah/salin
Belum kosong sama sekali. Tak ada telur yang bentuknya bulat telur.
8. Salin/spent
Testes dan ovarium kosong dan berwrna merah. Beberapa telur dalam keadaan sedang dihisap kembali.
9. Polin salin
Testes dan ovarium jernih. Abu-abu merah.
II. Tingkat kematangan gonad Ikan menurut Nikosky (Bagenal dan Braum, 1968).
1. Tidak masak
Individu muda belum berhasrat dalam reproduksi: gonad sangat kecil.
2. Tahap istrahat
Produk seksual belum mulai berkembang, gonad kecil ukurannya, telur belum dapat dibedakan dengan mata biasa.
3. Pemasakan
Telur-telur dapat dibedakan dengan mata biasa, pertambahan berat gonad dengan cepat sedang berjalan, testes berubah dari transparan kewarna merah muda pias.
4. Masak
Produk seksual masak, gonad mencapai berat yang maksimum, tetapi produk seksual tersebut belum keluar bila perutnya ditekan.
5. Reproduksi
Produk seksual keluar bila perut ditekan perlahan, berat gonad turun dengan cepat dari awal pemijahan sampai selesai.
6. Kondisi salin
Produk seksual telah dikeluarkan, lubang pelepasan kemerah-merahan, gonad seperti kantung kempis, ovari biasanya berisi beberapa telur sisa, dan testes berisi sperma sisa.
7. Tahap istrahat
Produk seksual telah dilepaskan, lubang pelepasan tidak kemerah-merahan lagi, gonag bentuknya kecil, telur belum dapat dibedakan oleh mata biasa.
III. Tingkat kematangan ikan albacone (Tunnus germo) menurut Otsu dan Hansen (1962)
1) Perkembangan awal
Ovari berisi telur primitif yang transparan atau telur ada dalam tingkat awal perkembangan. Pengendapan butir kuning telur tidak jelas.
2) Perkembangan akhir
Telur tidak jernih, sangat banyak pengendapan kuning telur, garis tengah telur antara 0,4 – 0,8 mm.
3) Lanjut
Ovari mendekati masak, yelur semi transparan dan berisi butir minyak berwarna emas. Telur ini belum masak benar dan garis tengahnya 0,7 – 1,0 mm.
Catatan : pembagian ini berdasarkan tingkat telur terbesar yang terdapat dalam ovari. Dalam pembagian ini tidak didapatkan tingkat ovari yang masak karena ikan yang mempunyai tingkat ini tidak tertangkap. Ukuran ikan yang dipakai dalam penentuan ini ialah 72 – 110 cm.
IV. Tingkat kematangan gonad ikan Otolithus ruber dan Johnius dussumieri menurut Devados (1969).
1. Tidak masak
Ovari berwarna pucat keruh, memanjang sampai sepertiga panjang rongga perut. Telur tidak dapat dilihat oleh mata, keadaan telur, kecil, tidak berkuning telur, transparan dengan inti yang jelas.
2. Tidak masak
Ovari berwarna merah anggur, mengisi 1/3 – ½ rongga perut: Gonad tidak simetri, telur tidak dapat dilihat oleh mata. Keadaan telur. Pembentukan kuning telur baru disekitar inti.
3. Hampir masak
Ovari berwarna merah jambu sampai kuning, berbutir-butir, memanjang sampai ½ – 2/3 dalam rongga tubuh. Keadaanr telur. Kecil, warna tidak terang, inti sebagian atau seluruhnya terbenam dalam kuning telur.
4. Hampir masak
Ovari berwarna putihsusu sampai kuning, pembuluh darah terlihat di bagian atasnya, memanjang sampai 2/3 bagian dari rongga perut, telur mudah terlihat. Keadaan telur. Telur dalam ukuran sedang dengan warna tidak terang, belum bebas dari sel-sel folikel.
5. Masak
Ovari berwarna kuning kemmerah-merahan, pembuluh darah jelas, panjangnya sampai ¾ – 4/3 rongga perut. Telur jelas terlihat. Keadaan telur. telur masak berukuran besar dan berwarna tidak terang, bebas dari folikel.
6. Masak betul
Ovari kemerah-merahan seperti kueh puding. Mengisi seluruh rongga perut, telur terlihat dari dinding ovari. Keadaan telur. Telur masak berukuran besar transparan, kuning telur berisi gelembung minyak.
7. Salin
Ovari mengkerut sebagai hasil pemijahan.
V. Tingkat kematangan gonad ikan sardinops neopilehardus menurut Baker (1972)
1. Tidak aktip
Ovari kecil, panjangnya kurang dari setengah rongga badan, kecil tapi pejal, merah jambu pucat, telur tidak terlihat. Testes pipih seperti daun, merah jambu atau transparan.
2. Tidak aktip/aktip
Ovari mulai membesar, agak panjang sampai tebalnya 5 mm, merah jambu gelap. Testes mulai menebal dan memanjang, warna putih sedang berkembang.
3. Aktip
Ovari lebih panjang dari setengah rongga badan, ketebalannya lebih jelas, dan kuning dengan telur berpigmen. Testes memanjang sampai libih dari setengah rongga badan, menebal, keputihan dengan pinggir agak ikal.
4. Aktip/masak
Ovari mengembang,hampir lengkap mengisi rongga badan, kuning cerah, berpembuluh, telur diskrete, menjadi transparan di ujung belakang. Testes mengisi hampir seluruh rongga badan. Keputihan, cairan seperti susu terdapat di bagian belakang.
5. Masak
Ovari pada ukuran maksimum, kuning gelap dan semi transparan karena penyebaran merata telur masak yang transparan seluh gonad. Testes pada ukuran maksimum, setengah dari bagian belakang berisi cairan seperti susu.
6. Masak sekali
Sama seperti tingkat 5. tapi dengan tekanan sedikit pada perutnya menyebabkan keluar telur atau sperma.
7. Salin
Ovari memanjang tetapi pipih, kosong dan berdarah: tidak terdapat telur besar, kecuali kadang-kadang beberapa di oviduet. Testes memanjang, seperti tall dan berdarah.
8. Salin/tidak aktip
Ovari kosong dan memperlihatkan tanda sedang membaik sampai tingkat tidak aktip, mengkerut, memejal, kurang bintik darah, dan berwarna merah jambu pucat, Testes sama.
9. Salin/tidak aktip/aktip
Ovari dan testes dapat memperlihatkan tanda baru saja mengeluarkan produk seksualnya. Tapi dalam keadaan membaik sampai tahap aktip.
VI. Tingkat kematangan gonad ikan belanak (Mugil dussumieri) modifikasi dari Cassie (Effendle dan Subardja 1977).
| Tingkat kematangan | Betina | Jantan |
| I | Ovari seperti benang. Panjang sampai kedepan rongga tubuh. Warna jernih, permukaan licin. | Testes seperti benang, lebih pendek(terbatas) dan terlihat ujungnya dirongga tubuh, waran jernih |
| II | Ukuran ovari lebih besar. Pewarnaan lebih gelap kekuning-kuningan, telur belum terlihat jelas dengan mata. | Ukuran testes lebih besar. Pewarnaan putih seperti susu. Bentuk lebih jelas dari pada tingkat 1. |
| III | Ovari berwarna kuning. Secara morpologi telur mulai kelihatan butirnya dengan mata. | Permukaan testes tampak bergerigi. Warna makin putih, testes makin besar, dalam keadaan diawet mudah putus. |
| IV. | Ovari makin besar, telur berwarna kuning, mudah di pisahkan. Butir minyak tidak tampak, mengisi ½ – 2/3 rongga perut, usus terdekat. | Seperti pada tiingkat III lebih jeles, testes semakin pejal. |
| V. | Ovari berkerut, dinding tebal, butir telur sisa terdapat di deket pelepasan. Banyak telur seperti pada tingkat II. | Testes bagian belakang kempis dan di bagian dekat pelepasan masih berisi. |
Barangkali kurang berguna apbila tingkat kematangan gonat ikan hanya di buat terbatas pada pembuatan daftarnya saja.. namun hal tersebut akan lebih berguna lagi kalau di telaah lebih mendalam hubungan dari tingkat kematangan gonat ikan tersebut dengan beberapa faktor yang ada dalam ikan itu sendiri atau dengan faktor waktu serta faktor lain-lainnya.
1. Hubungan tingkat kematangan dengan garis tengah telur.
Umumnya sudah dapat diduga bahwa semakin meningkat tingkat
Kematangan, garis tengah telur yang ada dalam ofarium semakin besar pula. Namun bagaimana perkembangan garis tengah telur itu sebenarnya. Penelitian mengenai hal ini akan memberikan jawaban di antaranya bahwa tiap tingkat kematangan, garis tengah telur itu mempunyai kisaran nilai, dengan nilai tertentu yang terbanyak. Dan akan didapatkan pula nilai-nilai yang bertumpu pada perbatasan tingkat kematangan yang berdekatan. Hubungan tersebut akan jelas terlihat apabila dinyatakan dalam gambar 7 sebagai berikut : 2. Hubungan tingkat kematangan dengan waktu.
Bergantung kepada ikannya , tingkat kematangan gonad pada tiap waktu berfariasi. Tingkat kematangan tertinggi akan ddi dapatkan paling banyak pada saat pemijahan akan tiba (Gambar 8). Untuk kelompok ikan yang mempunyai satu kali musim pemijahan dalam satu tahun, ada dua macam. Pertama ikan yang mempunyai saat pemijahan yang pendek dan kedua ikan yang saat pemijahannya panjang. Keadaan tersebut dapat terlihat dalam gambar atau tabel tahap kematangan yang waktu pengambilan contohnya tiap bulan atau tiap minggu sekali selama dalam waktu satu tahun misalnya. Demikian pula bila ikan tersebut mempunyai dua kali musim pemijahan yang beraturan, maka gambaran tahap kematangan itu akan berfariasi sekali.
VII. INDEK KEMATANGAN GONAD.
Di dalam proses reproduksi, sebelum terjadi pemijahan, sebaikan besar hasil metabolisme tertuju untuk perkembangan gonad. Gonat semakin bertambah berat dibarengi dengan semakin bertambah besar ukurannya termasuk garis tengah telurnya. Berat gonat akan mencapai maksimum sesaat ikan akan berpijah, kemudian beratt gonad akan menurun dengan cepat selama pemijahan sedang berlangsung sampai selesai.
Telah dikemukakan bahwa secara morpologi perubahan-perubahan kondisi tersebut dapat dinyatakan dengan tingkat kematangan. Namun hal ini belum menyatakan suatu perhitungan secara kuantitatip. Untuk mengetahui perubahan yang terjadi dalam gonad tersebut secara kuantitatip. Dapat dinyatakan dengan suatu indek yang dinamakan Indek Kematangan Gonad, atau IKG. Indek ini dinamakan juga Maturity atau gonad Somatic Indeks yaitu suatu nilai dalam persen sebagai hasil dari perbandingan berat gonad dengan berat tubuh ikan termasuk gonad dikalikan dengan 100%.
IKG = Bg/Bt X 100%
Dimana: IKG = Indek kematian gonad
Bg = Berat gonad dalam gram
Bt = Berat tubuh dalam gram
Dengan nilai tersebut akan di dapatkan bahwa sejalan dengan perkembangan gonad, indek itu akan semakin bertambah besar dan nilai tersebut akan mencapai batas kisar maksimum pada saat akan terjadi pemijahan. Jahson (1971) mengemukakan bahwa pada ikan thredfin shad indeknya berkisar dari 1 – 25 %. Ikan dengan IKG mulai dari 19%keatas sudah sanggup mengeluarkan telurnya dan dianggap matang. Sesudah memijah indeknya turun menjadi 3 – 4%.
Untuk tingkat kematangan gonad tertentu nilai indek tidak merupakan suatu nilai melainkan nilainya merupakan suatu nilai batas kisar. Sebagai contoh misalnya:
Tingkat kematangan IKG
III 6 – 11
IV 8 – 14
V 13-20
Namun didapatkan pula pada ikan belanak (Effendie dan subardja, 1976) bahwa pada tingkat kematangan yang sama (IV), tiap bulan indeknya bervariasi dari 1 – 20. sudah barang tentu indek untuk jenis ikan lainnya berbeda-beda. Bagi jenis ikan-ikan di indonesia masih banyak sekali yang belum diketahui. Sekali lagi hal ini merupakan peluang yang baik untuk diteliti lebih lanjut.
Dari awal perkembangan gonag sampai memijah, garis tengah telur yang dikandungnya semakin membesar pula. Dengan demikian maka akan didapatkan hubungan antara IKG dengan garis tengah telur.hubungan ini dapat dinyatakan dalam gambar histigram seperti yang dikemukakan oleh Arsjad (1973) pada ikan baung seperti pada gambar 9.
Selain indek kematangan gonad seperti termaksud di atas ternyata Batts (1972) mengemukakan indek lain yang dinamakan Gonad indeks (GI) yaitu perbandingan antara berat gonad dengan panjang ikan, yang rumusnya:
GI = w/Ls X 10s
Dimana: GI = Gonad indek
W = Berat gonad segar dalam gram
L = panjang ikan dalam mm.
Harga 10s merupakan suatu faktor agar nilai GI mendekati harga satu. Apabila tidak dikalikan dengan faktor tersebut akan didapatkan suatu nilai yang sangat kecil (beberapa angka di belakang koma) sehingga apabila nilai tersebut dipakai untuk membandingkan dengan nilai lainnya tidak sepeka dengan menggunakan faktor 10s tadi.
III. TINGKAT KEMATANGAN GONAD
Perkembangan gonad pada ikan menjadi perhatian para peneliti Reproduksi dimana peninjauan perkembangan tadi dilakukan dari berbagai aspek termasuk proses-proses yang terjadi didalam gonad baik terhadap individu maupun populasi. Perkembangan gonad yang semakin matang merupakan bagian dari reproduksi ikan sebelum terjadi pemijahan. Selama ini sebagian besar hasil metabolisme tertuju kepada perkembangann gonad. Dalam invidu telur terdapat proses yang dinamakan vitellogenesis yaitu terjadinya pengendapan kuning telur pada tiap-tiap invidu telur. hal ini menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan dalam gonad. Umumnya pertambahan berat gonad pada ikan betina sebesar 10-25% dari berat tubuh dan pada ikan jantan sebesar 5-10%. Dalam biologi perikanan, pencatatan perubahan atau tahap-tahap kematangan gonad diperlukan untuk mengetahui perbandingan ikan-ikan yang akan melakukan reproduksi dan yang tidak. Dari pengetahuan tahap kematangan gonad ini juga akan didapatkan keterangan bilamana ikan itu akan memijah, baru memijah atau sudah selesai memijah. Mengetahui ukuran ikan untuk pertama kali gonadnya menjadi masak, ada hubunganya dengan pertumbuhan ikan itu sendiri dan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhinya.
Tiap-tiap spesies ikan pada waktu pertama kali gonadnya menjadi masak tidak sama ukurannya. Demikian pula ikan yang sama spesiesnya. Lebih-lebih bila ikan yang sama spesiesnya itu tersebar pada lintang yang perbedaannya lebih dari lima derajat, maka akan terdapat perbedaan ukuran dan umur ketika mencapai kematangan gonad untuk pertama kalinya. Sebagai contoh ikan large mouth bass yang terdapat diamerika serikat. Ikan tersebut yang terdapat dibagian selatan pada waktu berumur satu tahun berat 180 gram, gonadnya sudah masak dan dapat bereproduksi. Ikan yang sama spesiesnya yang terdapat dibagian Utara pada umur satu tahun, ukurannya lebih besar yaitu panjangnya 25cm dan beratnya 230 gram tetapi dalam gonadnya tidak didapatkan telur yang masak, demikian juga spermanya. Ikan blue gill yang beratnya 42 gram, gonadnya masak dan dapat berpijah pada umur satu tahun. Tetapi ikan yang sama spesiesnya dalam keadaan banyak makanan, dalam waktu lima bulan beratnya dapat mencapai 56 gram dan gonadnya masak dan dapat berpijah. Jadi faktor utama yang mempengaruhi kematangan gonad ikan di daerah bermusim empat antara lain ialah suhu dan makanan. Tetapi untuk ikan di daerah tropik faktor suhu secara relatif perubahannya tidak besar dan umumnya gonad dapat masak lebih cepat.
Pengamatan kematangan gonad dilakukan dengan dua cara. Yang pertama cara histologi dilakukan dilaboratorium. Yang kedua cara pengamatan morfologi yang dapat dilakukan dilaboratorium dan dapat pula dilakukan dilapangan. Dari penelitian secara histologi akan diketahui anatomi perkembangan gonad tadi lebih jelas dam mendetail.sedangkan haasil pengamatan secara morfologi tidak akan sedetail cara histologi, namun cara morfologi tidak akan sedetail cara histologi, namun cara morfologi ini banyak dilakukan para peneliti.
Dasar yang dipakai untuk menentukan tinngkat kematangan gonad dengan cara morfologi ialah bentuk, ukuran panjang dn berat, warna dan perkembangan gonad ikan betina lebih banyak diperhatikan daripada ikan jantan karena perkembangan diameter telur yang terdapat dalam gonad lebih mudah dilihat dari pada sperma yang terdapat di dalam testes.
Pembagian Tahap kematangan Gonad
Beberapa orang peneliti tidak sama mengadakan pembagian tahap kematangan gonad ikan. Hal ini bergantung kepada jenis ikan yang ditelitinya. Adapula peneliti mengikuti pembagian peneliti lainnya tetapi modifikasi.